Perang AS-Iran Mengubah Lanskap Dunia, Bagaimana Posisi Indonesia di Bawah Kepemimpinan Prabowo-Gibran?

Perang AS-Iran Mengubah Lanskap Dunia, Bagaimana Posisi Indonesia di Bawah Kepemimpinan Prabowo-Gibran?

Opini, POLITIK2713 Dilihat
Spread the love
         
 
  
                 
   
Oleh: Firdaus
(Ketua Umum SMSI)

Di bawah langit Teheran yang kini diselimuti ketegangan, retorika perang telah bertransformasi dari sekadar ancaman diplomatik menjadi kenyataan yang nyaris tak terelakkan.

Konfrontasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tidak lagi berjalan melalui perantara, melainkan telah memasuki fase bentrokan langsung yang memancarkan dampak luas bagi tatanan global.

Bagi banyak pihak, perlawanan Iran bukan sekadar upaya mempertahankan kedaulatan negara, melainkan simbol perlawanan kolektif yang mewakili aspirasi mereka yang merasa terpinggirkan oleh dominasi kekuatan besar dunia.

Perang ini memiliki dimensi yang jauh melampaui sekadar hitungan militer atau kemenangan di medan tempur.

Di mata negara-negara berkembang, sikap tegas Iran dipandang sebagai bentuk keberanian untuk menantang standar ganda yang sering kali diterapkan dalam hubungan internasional.

Di satu sisi, nilai-nilai demokrasi dan kebebasan terus digaungkan, namun di sisi lain, penerapan sanksi ekonomi dan intervensi militer sering kali dianggap sebagai upaya mempertahankan hegemoni yang menghambat kemajuan bangsa-bangsa lain.

Realitas ini semakin terasa pahit ketika melihat kondisi sosial ekonomi dunia. Data terbaru dari Bank Dunia per September 2025 mencatat bahwa masalah kemiskinan ekstrem masih menjadi tantangan berat yang belum terselesaikan.

Sebanyak 808 juta jiwa diperkirakan masih hidup dalam kondisi serba kekurangan, dengan konsentrasi terbesar berada di wilayah-wilayah yang rawan konflik.

Wilayah Sub-Sahara Afrika menanggung beban terberat, di mana hampir separuh penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan.

Penyesuaian standar kemiskinan internasional menjadi 3,00 Dolar AS per hari atau setara sekitar Rp47.000 juga berdampak signifikan, memperlihatkan cakupan yang lebih luas dari masalah ini, termasuk di Indonesia sendiri.

Kesenjangan ekonomi dan ketidakadilan sistemik inilah yang kemudian menjadi landasan bagi narasi yang dibangun, di mana Iran memosisikan dirinya sebagai pembela kepentingan negara-negara yang merasa tertekan oleh tatanan ekonomi global yang didominasi oleh kekuatan Barat.

Di kawasan Timur Tengah, konflik ini telah membelah peta geopolitik menjadi dua kekuatan besar yang saling berhadapan.

Di satu sisi terdapat jaringan yang dikenal sebagai “Poros Perlawanan” yang dipelopori Iran, dan di sisi lain terdapat aliansi strategis yang diperkuat oleh AS.

Bagi dunia ketiga, situasi ini bukan sekadar perselisihan antarnegara, melainkan sebuah ujian bagi sistem internasional yang dianggap sudah tidak lagi relevan dan adil.

Dalam narasi yang berkembang, Iran hadir dengan segala risiko yang dihadapi sebagai pihak yang berani mengambil sikap demi prinsip perlawanan.

Sejarah mencatat bagaimana di masa lalu, di bawah kepemimpinan Bung Karno dan Bung Hatta, Indonesia mampu mengambil posisi yang strategis dan berwibawa di tengah pusaran perubahan dunia.

Kini, di tengah dinamika baru yang mengubah wajah hubungan internasional, muncul pertanyaan besar mengenai arah kebijakan luar negeri Indonesia.

Di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, bagaimana bangsa ini akan menempatkan diri dalam keseimbangan kekuatan global yang sedang bergeser?

Tantangan untuk tetap berdiri tegak, menjaga kepentingan nasional, dan berkontribusi pada perdamaian dunia kini menjadi amanah yang harus dijalankan dengan kebijaksanaan dan ketegasan. (*/SMSI Pusat)