Fenomena alam yang berlangsung berkelanjutan ini mengakibatkan empat kecamatan, yakni Lempuing, Lempuing Jaya, Mesuji, dan Air Sugihan, terendam air yang meluap dari sungai-sungai di daerah tersebut.
Peningkatan debit air sungai tidak hanya dipicu oleh hujan lokal, melainkan juga aliran air dari wilayah hulu.
Melubernya pintu air Bendungan Over Komering di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur) mempercepat naiknya permukaan air yang kemudian menggenangi permukiman warga, lahan pertanian, dan berbagai fasilitas umum.
“Sekitar dua hingga tiga jam setelah pintu air Bendungan Over Komering dibuka, air mulai menggenangi Kecamatan Lempuing dan kemudian meluas ke Kecamatan Lempuing Jaya,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) OKI, Listiadi Martin.
Dua kecamatan menjadi zona terdampak paling parah, yaitu Lempuing dan Lempuing Jaya.
Di Kecamatan Lempuing, banjir merendam 10 desa dengan total 1.774 kepala keluarga (KK) terdampak, dengan Desa Tebing Suluh sebagai wilayah dengan kondisi paling berat. Selain permukiman, sekitar 1.540 hektare sawah dan 545 hektare kebun warga juga tergenangi air.
Sementara itu, Kecamatan Lempuing Jaya mencatat 10 desa terdampak dengan jumlah warga mencapai 1.616 KK.
Di Kecamatan Mesuji, tiga desa terdampak dengan total 192 KK terkena imbas banjir.
Pemerintah Kabupaten OKI melalui BPBD bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) segera melakukan evakuasi warga di titik rawan serta mendirikan posko tanggap darurat.

“Bersama Wakil Bupati dan dibantu TNI-Polri, kami langsung turun ke lapangan untuk memastikan keselamatan warga serta menyalurkan bantuan,” jelas Listiadi Martin.
Pada Senin (12 Januari 2026), Dinas Sosial (Dinsos) OKI telah menyalurkan 120 paket bantuan logistik yang terdiri atas bahan kebutuhan pokok, selimut, tikar, perlengkapan mandi, dan kebutuhan harian lainnya.
Dinas tersebut juga membuka penggalangan bantuan untuk mendukung pemulihan kondisi warga terdampak.
Dampak banjir juga menjalar ke sektor pertanian dan pendidikan. Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DKPTH) OKI mencatat sekitar 4.400 hektare sawah petani terendam, yang tersebar di Kecamatan Lempuing, Lempuing Jaya, Air Sugihan, Pampangan, dan Jejawi.
“Sebagian besar sawah di Lempuing dan Lempuing Jaya merupakan padi dengan pola tanam IP 200 yang ditanam pada November–Desember. Sementara di Kecamatan Air Sugihan, tanaman padi sudah memasuki masa panen. Untuk sawah yang terdampak, pemerintah akan menyalurkan bantuan benih dari Kementerian Pertanian dengan total luasan sekitar 578 hektare,” jelas Pelaksana Tugas Kepala DKPTH OKI, Alexsander.

Di sektor pendidikan, sebanyak 18 sekolah di empat kecamatan terdampak banjir.
Untuk menjaga kelangsungan pembelajaran, Dinas Pendidikan (Disdik) OKI menerapkan kebijakan belajar daring.
“Bagi sekolah-sekolah terdampak yang juga dijadikan posko evakuasi, secara sementara diterapkan pembelajaran secara daring,” ujar Kepala Disdik OKI, M. Refly.
Bupati OKI, H. Muchendi, menginstruksikan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir susulan, longsor, dan dampak hidrometeorologi lainnya akibat intensitas hujan yang masih tinggi.
“Saya minta seluruh OPD melakukan upaya menyeluruh terhadap sarana dan prasarana serta kebutuhan masyarakat yang terdampak. Dirikan posko, siagakan petugas, pastikan semua benar-benar siap digunakan dalam kondisi darurat,” tegasnya.
Bupati juga secara khusus menekankan pentingnya layanan kesehatan yang optimal.
“Dinas Kesehatan harus siap penuh, baik dari sisi tenaga medis, ketersediaan obat-obatan, hingga logistik medis. Pelayanan kesehatan harus siaga 24 jam,” tambahnya.
Warga Desa Tebing Suluh, Tri Handoko (43), menyampaikan bahwa wilayah di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Lempuing selalu menjadi zona rentan setiap kali terjadi hujan deras berkepanjangan.
“Air dari hulu mengalir deras. Saat sungai tidak mampu menampung debit air, air langsung meluap ke rumah-rumah warga,” ujarnya.
Hingga saat ini, BPBD OKI terus melakukan pemantauan berkala di wilayah terdampak serta menyiapkan langkah-langkah mitigasi.
Masyarakat yang tinggal di bantaran sungai diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat curah hujan di wilayah OKI diperkirakan masih tinggi dalam beberapa pekan ke depan.
Bencana yang kembali menguji ketangguhan masyarakat dan pemerintah ini menjadi bukti pentingnya kerja sama serta kesiapsiagaan yang terpadu dalam menghadapi tantangan alam. (*/Red)












