Selain merusak infrastruktur vital seperti akses jalan, jaringan listrik, dan komunikasi, banjir ini juga menghanyutkan puluhan rumah, termasuk tempat tinggal dua wartawan yang tergabung dalam Sekber Wartawan Indonesia (SWI).
Bencana hidrometeorologi ini dipicu oleh curah hujan ekstrem yang terus mengguyur wilayah pegunungan Beutong Ateuh.
Akibatnya, sungai-sungai meluap secara tiba-tiba, membawa material lumpur, batu, dan pepohonan yang menghantam permukiman di sepanjang bantaran sungai.
Data yang berhasil dihimpun Radar Keadilan mencatat, dua rumah milik wartawan SWI lenyap terseret arus banjir.
Rumah pertama adalah milik Banta Sulaiman, wartawan Gajahputihnews.com, yang dihuni bersama keluarganya: Rusli (50), Rosmania (40), dan Hayaton (20). Rumah kedua merupakan kediaman Samsuar, wartawan Meuligoeberita.com, yang ditinggali bersama kedua orang tuanya, Basyah (49) dan Siti (40).
Kini, kedua keluarga tersebut kehilangan tempat tinggal dan terpaksa mengungsi di tenda-tenda darurat bersama ribuan warga lainnya.

“Banjir datang begitu cepat dan langsung menghantam desa kami. Alhamdulillah, keluarga semua selamat, tetapi rumah kami hilang total. Kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah,” ujarnya dengan nada pilu.
Tak hanya kehilangan tempat tinggal, Banta juga harus merelakan lahan perkebunan seluas satu hektare yang kini berubah menjadi aliran sungai akibat terjangan banjir.
“Rumah yang baru saja kami bangun pun habis disapu air. Banyak keluarga di sini kehilangan segalanya. Semuanya terjadi begitu cepat, kami tidak sempat menyelamatkan apa pun,” tambahnya.
Samsurdi, wartawan Meuligoeberita.com yang juga Humas SWI Aceh Barat, turut menjadi korban dalam musibah ini.
“Kami sekeluarga berhasil menyelamatkan diri saat banjir mulai naik. Namun, rumah kami tidak ada lagi. Semuanya hilang, kerugian juga mencapai ratusan juta,” ungkapnya singkat.
Jembatan penghubung dan ruas jalan yang berada dekat dengan sungai tergerus, menyebabkan bantuan sulit menjangkau titik-titik pengungsian. Warga kini bertahan dengan logistik seadanya, mengandalkan dapur umum darurat yang dikelola oleh relawan setempat.
Para korban berharap pemerintah daerah segera melakukan pendataan mendetail terkait warga yang kehilangan tempat tinggal dan harta benda.
Banta menekankan pentingnya perhatian serius dari pemerintah, mengingat banyak keluarga yang kini tinggal tanpa alas, selimut, maupun perlengkapan dasar.

“Kami berharap pendataan dilakukan secepatnya. Banyak warga kehilangan segalanya. Kami butuh perhatian dari pemerintah daerah maupun provinsi,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, proses evakuasi dan pendistribusian bantuan masih terkendala cuaca buruk dan akses jalan yang terputus. Sejumlah relawan, aparat TNI-Polri, dan petugas BPBD Nagan Raya terus berupaya membuka akses dan menyalurkan bantuan darurat.









