Boyolali, Radar Keadilan – Aula Front One The Andya Boyolali, yang berlokasi di Jalan Merdeka Timur, Wonosari, Kemiri, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menjadi saksi sejarah penting bagi dunia kewartawanan Indonesia.
Pada Kamis malam, tempat tersebut menjadi pusat pertemuan puncak Musyawarah Nasional (Munas) Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI).
Awalnya direncanakan berlangsung khidmat dan tenang, forum ini justru bertransformasi menjadi ajang dinamis yang penuh semangat, lahir dari gelombang aspirasi, keresahan, serta rasa cinta mendalam para peserta terhadap keberlangsungan organisasi.
Sejak agenda pemilihan Ketua Umum dimulai, suasana sidang memanas dan memicu perdebatan tajam.
Situasi itu muncul lantaran dari dua nama yang sebelumnya diproyeksikan maju, hanya satu kandidat yang hadir hingga tahap akhir sidang.
Di samping itu, sejumlah peserta juga mempertanyakan kelengkapan administrasi pencalonan serta mekanisme pemilihan yang dinilai belum sepenuhnya ideal.
Beragam pandangan pun bermunculan. Sebagian peserta menyuarakan ketidakpuasan, “Proses ini belum sepenuhnya mencerminkan prinsip demokrasi organisasi,” ujar salah satu peserta sidang.
Namun, pandangan lain menekankan urgensi keberlanjutan organisasi.
“Tantangan zaman menuntut keputusan cepat. Jangan biarkan SWI kehilangan arah tanpa adanya kepemimpinan yang sah,” tegas peserta lainnya.
Meski perdebatan berlangsung sengit dan adu argumentasi tak terelakkan, seluruh diskusi tetap terjaga dalam koridor aturan organisasi serta semangat kokoh untuk menjaga persatuan.
Hal ini ditegaskan oleh Ketua DPD SWI Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Alimusa, yang hadir sebagai delegasi dari Provinsi Sumatera Selatan.
Ia menyampaikan bahwa di balik ketegangan yang terjadi, tersimpan tekad kuat para delegasi yang datang dari berbagai penjuru nusantara demi satu tujuan mulia.
“Saya memahami betul pentingnya kepatuhan terhadap aturan dasar organisasi. Namun di sisi lain, saya melihat semangat luar biasa dari rekan-rekan yang menempuh perjalanan jauh dari Aceh, Sumatera, Lampung, Banyuwangi, Sulawesi, Tangerang, Jakarta, Palembang, Palu, dan daerah lainnya. Mereka hadir demi memastikan SWI tetap eksis dan terus bergerak maju,” ungkap Alimusa.
Sebanyak 56 delegasi berkumpul dalam forum bersejarah ini. Menjelang puncak acara, forum akhirnya mencapai kesepakatan melalui mekanisme pemungutan suara.
Pemilihan dilakukan dengan sistem kandidat tunggal berhadapan dengan kertas kosong, sebagai bentuk penegasan hak demokrasi seluruh anggota.
Hasil perhitungan suara menempatkan H. Iskandar meraih dukungan mayoritas sebesar 49 suara, 4 suara abstain, dan 3 suara dinyatakan tidak sah atau di luar konteks.
Dengan angka tersebut, H. Iskandar secara sah dilantik dan ditetapkan sebagai Ketua Umum SWI periode selanjutnya.
Sesaat setelah hasil dibacakan, suasana hening seketika menyelimuti ruangan. Ketegangan yang memuncak perlahan berubah menjadi rasa lega yang mendalam.
Perbedaan pandangan yang sempat memisahkan, luluh dalam kedewasaan sikap.
Para peserta yang sebelumnya saling berargumen kini saling mendekat, berjabat tangan, dan berpelukan. Tidak ada lagi sekat kubu, tidak ada nuansa menang atau kalah.
Yang tersisa hanyalah kesadaran kolektif bahwa organisasi ini harus tetap berdiri tegak di atas landasan persaudaraan.
“Pak Iskandar, kami titipkan masa depan SWI ke tangan Bapak,” ucap Alimusa sambil menggenggam erat tangan ketua umum terpilih.
Menanggapi hal itu, H. Iskandar menjawab dengan tegas namun hangat, “Siap, Mas Ali. Ini bukanlah kerja seorang pemimpin semata, melainkan tanggung jawab kita semua, seluruh keluarga besar SWI.”
Di luar gedung, suasana malam Boyolali tampak tenang dengan pemandangan khas masyarakat yang menikmati waktu santai. Namun, di dalam aula, semangat persatuan justru menyala semakin terang.
Munas SWI 2026 menjadi bukti nyata bahwa perbedaan pandangan bukanlah ancaman, melainkan bagian tak terpisahkan dari proses demokrasi yang sehat.
Para insan pers telah menunjukkan bahwa setiap perdebatan mampu diselesaikan dengan kedewasaan, rasa hormat, dan komitmen menjaga keutuhan.
Forum ini sekaligus menjadi cerminan penting bahwa tantangan terbesar dunia kewartawanan saat ini bukanlah perselisihan internal, melainkan upaya menjaga independensi, memperjuangkan keadilan, melawan kebodohan publik, serta konsisten menyuarakan kebenaran di tengah derasnya arus informasi yang beraneka ragam.
Terpilihnya H. Iskandar diharapkan menjadi babak baru yang membawa SWI menjadi organisasi yang semakin solid, profesional, kritis, dan beradab dalam menjalankan fungsi strategis pers sebagai pilar demokrasi negara.
Momen berharga itu ditutup dengan satu rasa yang sama di hati seluruh delegasi: kelegaan dan kebanggaan.
Kebahagiaan itu bukan semata lahir dari hasil pemilihan, melainkan karena SWI telah berhasil melewati ujian demokrasi berat dengan tetap kokoh memegang teguh tali persaudaraan.
Di panggung demokrasi, suara memang boleh berbeda, namun ikatan persaudaraan tidak boleh pernah pudar.
Segera setelah dilantik, Ketua Umum SWI terpilih, Iskandar, S.O.S, mengumumkan langkah kerja nyata pertamanya.
Dalam kurun waktu satu bulan ke depan, pihaknya akan melakukan penataan ulang struktur Dewan Pimpinan Pusat (DPP) sekaligus menerbitkan pembaruan Surat Keputusan (SK) kepengurusan untuk jajaran Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) di seluruh wilayah Indonesia.
“Pasca pemantapan struktur DPP, kami akan segera menyelesaikan pembaruan SK di setiap tingkatan kepengurusan agar keberadaan organisasi memiliki landasan hukum yang kuat dan seragam di seluruh Indonesia,” tegas Iskandar.
Dalam pidato perdananya, Iskandar menegaskan komitmen tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan organisasi dan anggotanya. Ia menyatakan siap mengabdikan sisa hidupnya demi kemajuan SWI.
“Kami berada di posisi ini karena dukungan rekan-rekan sekalian. Amanah ini akan saya jalankan sepenuh hati hingga akhir hayat. Masa depan organisasi ada di tangan kita; mari kita bangun bersama agar di masa mendatang tidak ada lagi perdebatan yang memecah belah. SWI kita miliki, SWI kita bangun bersama,” ujarnya dengan penuh keyakinan di hadapan seluruh peserta.
Visi besar lainnya yang dicanangkan adalah menjadikan SWI setara dengan organisasi pers besar lainnya dan mampu menjadi bagian dari konstituen Dewan Pers.
Sebagai bukti keseriusan, Iskandar juga mengabarkan bahwa kantor sekretariat tetap SWI telah disiapkan dan ditetapkan lokasinya di wilayah Jabodetabek sesuai kesepakatan panitia.
“Sarana pendukung seperti kantor operasional sudah kami siapkan demi kelancaran kerja organisasi,” tambah sosok yang dikenal bersahaja namun tegas ini.
Rencana kerja yang terstruktur, visi kelembagaan yang jelas, serta langkah nyata yang dipaparkan mendapat sambutan positif dan dukungan bulat dari seluruh peserta sidang.
Malam itu di Boyolali menjadi tonggak sejarah yang menegaskan bahwa SWI kini melangkah lebih kuat, lebih terarah, dan siap berperan besar bagi kemajuan pers Indonesia. Demokrasi telah bicara, persaudaraan menang, dan organisasi kini bergerak menuju masa depan yang lebih cerah. (*/Red)











